Jumat, 31 Mei 2013

malam itu

Malam yang Damai
Suasana malam ini begitu mencekam,
            Hembusan angin menambah hawa dingin menusuk tulang-belulang,
Masuk menerjang hati dan perasaan semakin menjulang tinggi,
            Meresap menyelimuti jiwa yang terhempas,


Denyut-denyut urat nadi menjalar menuju alam bawah sadar...
            Hingga terasa kebekuan gerak,
Membuat seluruh organ tak bernafas leluasa,

            Sebatang demi sebatang rokok aku habiskan begitu saja,
Tanpa rasa, tanpa suara,
            Yang terdengar dengungan alam semesta melalap segala asa,
Asap terus mengurai,
            Pergi entah kemana,

Dalam benak ku tersirat rasa yang tak ku mengerti,
            Antara kedamaian dan kegelisahan menerpa batin,
Ditengah sanalah aku berada,

            Aku tak tau pasti,
Apakah gunung-gunung disana menari indah,
Atau lembah itu menjelma seperti malam,
Dan mengapakah ku rasa lautan berirama mengitari dunia,

            Sungguh aku tak berdaya,
Seakan keraguan menghancurkan keyakinan,
Dan keyakinan yang berdiri kokoh, runtuh , tumbang dimakan masa.

            Merayap secercah cahaya bulan,
Langsung masuk menerawang hati,
Lalu menariknya pergi ketempat terindah
            Yang sebelumnya tak pernah kutemui,

Katakanlah wahai pujangga,
            Dimanakah kini ku berada,
Tunjukanlah wahai harapan,
            Jalan apa yang kulewati ini,
Aku bagai buta,
Seperti tak punya rasa,

            Dan tak mampu merasakan apa-apa,

Seakan aku hanyut dibawa arus deras menelusuri dermaga,
Berkeliling mengitari alam dunia,
            Kapan ku terdampar di suatu tempat yang memukau jiwa,
Entah apa ku terus saja terseret gelombang air,
            Tanpa bisa bergerak,
Tanpa bisa tersangkut dahan-dahan,
            Akar-akar pohon disamping kiri-kanan ku,

            Berlalu begitu saja,
Apakah aku tersesat,
            Apakah jika ku terus ikuti jejak air ini,
Aku akan sampai di ujung tempat,
            Dan mungkinkah di ujung sana telah disiapkan tempatku yang paling indah,
Bukan sekedar indah, namun begitu menakjubkan indahnya,
            Hingga lukisan sebagaimanapun,
Tak bisa menyamainya.

            Hening, sepi, suara gemericik airlah yang bisa ku dengar dan kurasa,
Sudah ku pasrahkan semua,
            Dan kubiarkan batinku larut membawa harapan,
Yang selalu tersimpan rapat dalam benak ku.

            Akan ku serahkan pada-Mu,
Apapun yang kudapat nanti,
 Aku tak tau,
            Engkaulah pencipta harapanku,

Yang kuharap akan timbul menjadi seberkas cahaya menuju kebenaran....!

Tidak ada komentar: